Mengembangkan Pangan Lokal Sehat Dan Segar

Borong, Wartamanggaraitimur.com- Peringatan Hari pangan sedunia tahun 2019 tingkat Kevikepan Reo di laksanakan di Aula Gereja St. Eduardus Watunggong , Desa Satar Nawang, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.

Tema yang di usung dalam peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 39 tingkan Kevikepan Reo ini adalah, Mengembangkan Pangan Lokal Sehat dan Segar.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari terhitung sejak Rabu, (27/11/2019) hingga Jumat, (29/11/2019).

Bupati Manggarai Timur Agas, Andreas, SH,M.Hum dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris daerah (Sekda) Kabupaten Matim Ir. Boni Hasudungan menjelaskan peringatan Hari Pangan Sedunia tingkat Kevikepan Reo ke 39 merupakan momentum yang strategis bagi kita semua untuk senantiasa lebih menyadari tentang pentingnya mengembangkan pertanian berbasis pangan lokal.

Hal ini lanjutnya, untuk menyediakan pangan lokal yang berkualitas ke arah asupan pangan masyarakat yang lebih beragam, bergizi, seimbang, dan nyaman, serta mengurangi ketergantungan pada salah satu pangan pokok, yaitu beras.

Langka ini, jelasnya, sejalan dengan upaya untuk membangun umat se Kevikepan Reo yang lebih baik yaitu, insan sehat, aktif dan produktif melalui pertanian berbasis sumber daya lokal.

Kata Sekda Boni, kondisi ketahanan pangan Kabupaten Manggarai Timur saat ini masih dalam kategori aman dengan jumlah penduduk per Desember 2018 adalah 299. 427 jiwa, ketersedian 76.306, 47 ton, kebutuhan 43.514,17 ton dan ketahanan 20,9 bulan.

Sekda Boni menjelaskan, berdasarkan hasil survey pola konsumsi pangan skor PPH tiga tahun terakhir, tahun 2016 adalah 70,1. Tahun 2017 adalah 72,1. Tahun 2018 adalah 76,5 hal ini menujuhkan bahwa pola  konsumsi masyarakat Kabupaten Manggarai Timur semakin membaik dari tahun ke tahun secara kuantitatif namun dari sisi kualitas konsumsi kita masih rendah karna belum memenuhi standar pola pangan harapan (PPH) ideal 100.

"Artinya bahwa dari sembilan kelompok pangan konsumsi kita masih di dominasi oleh beras sedangkan delapan kelompok pangan konsumsi lainnya masih belum sesuai dengan standar angka kecukupan Gizi (AKG) atau dengan kata lain bahwa konsumsi pangan kita belum beragam, bergizi, seimbang dan aman yang sangat erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat", ungkap sekda Boni

Dijelaskan Sekda Boni, untuk terpenuhinya kebutuhan zat gizi, baik gizi makro maupun gizi mikro dalam jumlah yang cukup,diperlukan pola hidup sehat, aktif dan produktif.

Oleh karna itu, tambahnya, kecakupan zat gizi mikro dalam jumlah yang cukup sangat penting terutama untuk ibu hamil dan anak balita, katanya

Sekda boni mengungkapkan, ukuran gizi makro dan mikro yang dianjurkan untuk dikonsumsi tersebut diterjemahkan oleh undang-undang nomor 1 tahun 2019 tentang 'Jumat Non Beras' namun pelaksanannya belum optimal.

Dikatakan Sekda Boni, keberhasilan pembangunan ketanahanan pangan bukanlah pekerjaan yang mudah dalam kondisi daerah kita yang sedang melakukan penataan dengan berbagai permasalahan yang kompleks.

Karna, kata dia, substansi dan esensi hasil-hasil pembangunan ketahanan pangan membutuhkan waktu lama dan melibatkan semua pihak baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat termasuk umat gereja Katolik se Kevikepan Reo.

Dijelaskan Sekda Boni, permasalahan konsumsi beras yang terlalu tinggi sebenarnya dapat diatasi dengan memberikan penyuluhan terhadap seluruh umat katolik tentang manfaat umbi-umbian,  jagung, jali (sela), sorgum (pesi) sebagai sumber karbo hidrat non beras yang ada di sekeling kita dan tersedia hampir di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Timur baik yang terdapat di pekarangan, kebun, dan tegalan.

"Salah satu strategi pemerintah untuk mengatasi masalah diatas adalah melalui program percepatan disfersivikasi konsumsi pangan. Melalui program percepatan ini diharapakan dapat mendorong terciptanya peningkatan konsumsi pangan masyarakat yang beragam, bergizi, seimbang dan nyaman yang berbasis sumber daya lokal", jelasnya

Pada sisi lain, ungkap Sekda Boni, pelaksanaan program percepatan disversifikasi konsumsi pangan dapat mendorong berkembangan usaha di bidang pangan, sehingga perekonomian keluarga dapat meningkat, katanya

"Diharapkan agar kesempatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk saling dapat membagi pengetahuan dan pengalaman baik antar para narasumber dengan peserta HPS maupun sesama peserta HPS", harap Sekda Boni

Kata Sekda Boni, perlu di pahami bahwa masing-masing orang pasti memiliki pengetahuan dari pengalaman yang berbeda satu sama lain yang dapat dimanfaatkan untuk saling melengkapi.

Sekda Boni menjelaskan, perbedaan etnis, suku, wilayah dan budaya  merupakan kekayaan daerah sangat mempengaruhi pola konsumsi masing-masing kita dan dengan demikian apa yang kita namakan sebagai kearifan lokal akan dapat terlihat dari kreatifitas umat dalam menciptakan menu-menu lokal sesuai dengan konsumsi yang terbentuk di masing-masing wilayah berdasarkan potensi pangan yang tersedia.

"Budaya kita masih beranggapan bahwa keberhasilan percepatan diversifikasi konsumsi pangan sangat ditentukan dari peranan kaum ibu sebagai pengelola pangan rumah tangga", ungkapnya

Masih kata Sekda Boni, di negara maju urusan konsumsi pangan sudah menjadi tanggung jawab bersama oleh karna itu kordinasi dan kerja sama antara pemerintah dan gereja sebagai ujung tombak pelaksana kegiatan sangat diperlukan dalam bentuk skor pola pangan harapan (PPH) yang capaiaanya tergambar diatas.

"Saya menyampaikan terimakasih kepada umat gereja katolik di seluruh Kevikepan Reo dan lebih khusus umat di wilayah Kabupaten Manggarai Timur yang telah memulai gerakan pemanfaatan pangan lokal bagi konsumsi rumah tangga", tutur sekda Boni

Karena dengan demikian, ungkapnya, umat katolik telah mengambil bagian dan peduli dalam mempersiapkan generasi muda penerus melalui sikap, perilaku dan pola penataan konsumsi yang lebih baik yaitu pangan yang lebih beragam, bergizi, seimbang, dan aman bagi pembentukan kualitas manusia.

Dikatakannya, perlu dipahami bersama bahwa menu asupan yang disajikan sebagai konsumsi harian di rumah tangga sangat mempengaruhi pada kualitas kehidupan orang-orang yang mengkonsumsinya dan terutama bagi putra putri yang masih berada di masa pertumbuhan dan pembentukan ke pribadian.

"Saya mengajak kepada seluruh peserta HPS agar dari kegiatan ini dapat menujukan komitmen dan tanggung jawab yang tinggi dalam mendukung dan mensukseskan program diversifikasi konsumsi pangan di rumah tangga masing-masing", ajak Sekda Boni

Sekda Boni menjelaskan, Pemerintah kabupaten Manggarai Timur sudah mengeluarkan instruksi Bupati  nomor 18 tahun 2012 tentang pangan mengamanatkan kepada kita untuk.

Pertama, selalu terpenuhinya pangan bagi rumah  tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

Kedua, menciptakan keanekaragaman pangan sebagai upaya untuk meningkatkan ketersedian pangan yang beragam yang berbasis sumberdaya lokal, ditunjukan untuk memenuhi pola konsumsi pangan beragam, bergizi, seimbang, aman dan mengembangkan usaha pangan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dikatakannya, mengacuh pada undang-undang tersebut diatas maka pemerintah, masyarakat, lembaga dan non pemerintah lainya untuk menciptakan kondisi ketahanan pangan bagi masyarakat.

"Pangan merupakan kebutuhan dasar hayati yang bersifat azasi bagi seluruh umat manusia di muka bumi dan tidak bisa diganti oleh barang lain", jelasnya

Bagi Pemerintah, tambahnya, ketahanan pangan perupakan amanat undang-undang sehingga pemerintah wajib menjamin dalam pemenuhannya dan mendukung perkembangan pertanian agar terwujud ketahanan pangan yang mencakup beberapa komponen yakni, ketersedian pangan, distribusi pangan, dan konsumsi pangan. (KR-1)

 
 
 
 
BalasTeruskan

Berita Terbaru

Alamat Redaksi

Bagian Humas dan Protokol 
Setda Kabupaten Manggarai Timur 

Kompleks Satar Lehong-Gurung Liwut
Manggarai Timur-NTT-86571

Newsletter

Social

FacebookTwitter